Haruskah Sampah Berakhir di Laut?

Melaut dalam Cerita: Bertualang dalam Pengetahuan Tentang Laut
February 2, 2019
Siapa yang Mengganggu Kehidupan? Sampah? Apa Kita?
February 6, 2019

Sampah sepertinya masih menjadi masalah besar bagi masyarakat dunia selama bertahun-tahun. Perkara soal sampah ini seakan-akan tidak pernah ada habisnya. Slogan “Buanglah sampah pada tempatnya!”, “Kebersihan sebagian dari iman.” dan slogan-slogan lainnya mengenai kebersihan dan sampah ini sudah sering dilontarkan semenjak duduk di bangku sekolah dasar sekalipun. Tapi sepertinya slogan itu tidak berdampak cukup besar sehingga masih saja ada sampah berserakan dimana-mana.

Dimana sebenarnya sumber masalah tersebut? Pemerintah? Petugas kebersihan? Atau mungkin kamu? Atau kita? Entahlah. Mungkin semuanya memiliki peranannya masing-masing dalam persoalan sampah ini. Berbagai upaya dari pemerintah untuk menangani persoalan sampah ini tentu sudah banyak dilakukan. Mulai dari penyediaan sarana kebersihan, hingga peraturan denda yang berlaku bagi orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Namun upaya tersebut belum memberikan hasil yang signifikan.

Nyatanya, kita pun harus menyadari bahwa sampah adalah persoalan bersama. Bukan hanya pemerintah saja yang wajib memikirkan solusinya. Kita sebagai masyarakat juga bertanggungjawab terhadap persoalan sampah tersebut. Perilaku kita yang masih sering mengabaikan masalah sampah ternyata sudah berdampak cukup ekstrim saat ini. Sampah-sampah yang tidak dibuang pada tempatnya, yang memenuhi selokan, lalu masuk mengotori sungai. Tanpa ada penanganan yang serius, akhirnya sampah-sampah tersebut terbawa oleh aliran sungai hingga akhirnya sampai ke laut. Ya, sampai ke laut!

Sampah ketika musim hujan

Pernahkah kamu mengunjungi Dermaga Kali Adem? Jika dilihat kondisi perairannya yang sudah cukup mengkhawatirkan dengan warnanya yang cokelat pekat ditambah lagi masih dapat ditemukan sampah-sampah yang mengambang. Jika sudah menaiki kapal dan melewati Teluk Jakarta untuk sampai ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu pasti ada saja tumpukan sampah yang mengapung di tengah laut, entah berasal dari mana. Belum lagi ketika sudah sampai di salah satu pulaunya pun tetap ada saja sampah yang berserakan. Paling parah ketika musim penghujan datang, Kepulauan Seribu selalu terkena imbasnya yaitu kiriman sampah dari banjir di Jakarta.

Sampah menumpuk di Dermaga Kali Adem akibat musim hujan 2017 lalu

Sampah dari banjir rob

Baru-baru ini, fenomena sampah kiriman juga terjadi di daerah Kabupaten Pamekasan, Madura. Berdasarkan berita yang diliput oleh surya.co.id, warga Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan mengeluhkan sampah yang berserakan di laut. Hal tersebut terjadi ketika air laut pasang dan menggenang daerah daratannya. Ketika itu air laut mengangkut sampah-sampah di daratan dan membawanya ke laut ketika surut. Diakui warga setempat bahwa peristiwa ini sudah rutin terjadi setiap tahunnya. Tapi apakah ada penanganan serius untuk mengatasi masalah tahunan ini?

Sampah di daratan terbawa ke laut oleh banjir rob di Pamekasan, Madura, awal 2019 ini

Banyak sampah kemasan sekali pakai

Selain kedua tempat tersebut, ada pula Pulau Nasi di Aceh. Komunitas Sahabat Laut di pulau tersebut melakukan riset sampah. Sampah yang dikumpulkan tersebut 50,7 persen merupakan sampah botol plastik. Selebihnya 41,5 persen yaitu botol bukan plastik dan 7,7 persennya bukan sampah plastik. Selain sampah-sampah dengan merk dagang dalam negeri, ternyata ditemukan juga sampah bermerk dagang dari luar Indonesia seperti Maladewa, Malaysia dan Cina.

Dan masih banyak potret lain yang menggambarkan betapa mengerikannya kondisi laut saat ini yang sudah tercemari sampah-sampah yang tidak seharusnya ada di sana. Bikin merinding! Bayangkan apa yang akan terjadi jika permasalahan ini tidak kunjung ditangani? Lautan biru yang indah akan tertutup sampah sehingga menjadi kotor dan menjijikan. Apakah laut memang pantas menerima sampah-sampah yang kita hasilkan? Apakah makhluk hidup yang tinggal di laut juga harus menanggung akibat dari ulah manusia yang ingin seenaknya sendiri saja? Namun satu yang harus selalu diingat adalah laut bukan tempat sampah.

 

Penulis: Nissa

Editor: Nissa

 

sumber:

http://surabaya.tribunnews.com/2019/01/04/warga-desa-pesisir-pamekasan-keluhkan-sampah-laut-berserakan-berharap-pemkap-beri-solusi

http://wartakota.tribunnews.com/2017/02/13/berita-foto-sudah-satu-minggu-pelabuhan-kaliadem-diterjang-sampah-kiriman

https://darilaut.id/sampah-polusi/riset-sampah-plastik-di-pulau-nasi-aceh- besar

1 Comment

  1. salikun says:

    menurut sy seharusnya diatasi dan teratasi di darat hingga tdk sampek ke laut,caranya buka di(google)teknologi pemusnah sampah adalah sulusi cerdas mengatasi masalah sampah apapun jenis nya,sebageimana kebanyakan yg sdh menggunakan segala masalah sampah teratasi tuntas total.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *