Divingnya Jangan Ganggu Terumbu Karang, Ya!

produk perikanan
Produk Perikanan di Wilayah Jakarta dan Bogor Dilaporkan Terkontaminasi Bakteri yang Tahan Terhadap Antibiotik
December 8, 2020
peletakan terumbu buatan
 Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Peletakan Terumbu Buatan
December 12, 2020

Perilaku Destruktif Ketika Snorkeling dan Diving

Bagi para ocean addict, tentunya kegiatan diving dan snorkeling akan masuk ke itenerary liburan kalian. Menikmati keindahan alam bawah laut memang bukan main serunya. Tapi sayangnya, kegiatan ini bukan menjadi hal yang ditunggu-tunggu bagi hewan karang di ekosistem terumbu karang (coral reef), karena salah satu penelitian yang ditulis oleh Muhidin dkk. menjelaskan dan memaparkan fakta-fakta dampak perilaku destruktif ketika snorkeling dan diving terhadap ekosistem terumbu karang.

Wisatawan di Pulau Panggang

Pulau Panggang di Kepulauan Seribu, Jakarta menyediakan paket-paket liburan yang beragam, salah satunya adalah paket snorkeling atau diving. Jumlah wisatawan di Pulau Panggang meningkat sekitar 81% di tahun 2014 hingga 3 juta orang dari tahun 2008 yang berjumlah 133.000 orang. Tetapi, dengan kenaikan yang sebesar ini, selain akan berdampak pada sektor ekonomi, juga akan berdampak pada ekosistem terumbu karang.

Perilaku Destruktif ketika Snorkeling dan Diving

Wisatawan yang kurang teredukasi atau kurang wawasan biasanya tidak ragu-ragu untuk memegang, menginjak, menendang, bahkan berjalan di atas karang. Meskipun dampak langsungnya tidak terlalu terlihat, tetapi jika diakumulatifkan dengan jumlah wisatawan yang kian meningkat, akan berdampak buruk bagi hewan-hewan karang tersebut. Ya! Benda yang berwarna-warni dan eksotis itu merupakan sekumpulan hewan yang berkoloni membentuk hamparan terumbu karang. Tentunya, semua makhluk hidup tidak suka jika ada perilaku “semena-mena” terhadapnya. Hewan karang juga, loh!

Menurut penelitian, terjadinya kontak penyelam dengan karang ada pada kisaran 1 sampai 3 kali setiap 10 menit. Penelitian lain menyebutkan juga bahwa perilaku wisatawan bisa menyebabkan teraduknya sedimen (biasanya pasir) atau mematahkan terumbu karang. Penelitian oleh NGO (Non-government Organization) WCS (Wildilife Conservation Society) mengungkapkan bahwa wisatawan akan memberikan tekanan ekosistem yang merusak sampai sekitar 5,12 m2/25m2.

Kasus di Pulau Panggang

Muhidin bersama 2 rekannya dari Institut Pertanian Bogor membuat suatu penelitian mengenai perilaku destruktif wisatawan terhadap terumbu karang di Pulau Panggang, Jakarta. Dengan melakukan pengamatan lapangan dan analisis yang komprehensif, data mengenai persentase tutupan biota karang dan persentase dampak wisata bahari dapat diperoleh.

Perilaku destruktif yang teramati adalah menginjak karang, menendang karang, memegang karang, dan mengaduk sedimen. Dalam pengamatannya, Muhidin mengategorikan wisatawan menjadi aktivitas snorkeling, diving (wisatawan tanpa lisensi), dan diving (wisatawan berlisensi).

Ternyata pelaku yang paling banyak melakukan perilaku destruktif adalah wisatawan snorkeling dengan menginjak karang. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa biasanya selama 1 jam melakukan snorkeling, mereka menginjak sebanyak karang 4 kali. Bagi para divers berlisensi, mereka paling sering juga menginjak karang 1 kali selama 1 jam, sehingga peluang terjadinya hanya sebesar 0,01. Sedangkan divers tanpa lisensi memegang karang 3 kali selama 1 ham.  Seperti angka yang kecil tetapi jika dibiarkan tentunya akan berdampak negatif dikemudian hari.

Adapun dampak langsung yang bisa saja terjadi adalah mematahkan karang pada cabang-cabang karang jenis branching, foliose, tabulate, dan digitate. Selain itu, akan menimbulkan goresan atau luka pada karang jenis massive dan submassive. Patahan ini terjadi karena seringkali menjadi tumpuan untuk berdiri oleh wisatawan-wisatawan tidak bertanggung jawab atau karena tertabrak fins (kaki katak).

Menurut peneliti, karang pada daerah wisata yang sering terinjak akan memiliki pertumbuhan vertikal dan diameter yang lebih rendah dibanding daerah tanpa wisatawan, dan salah satu terumbu karang genus Millepora dan Porites di Pulau Air sudah terlihat pertumbuhan vertikal yang abnormal berupa bagian atas karang cenderung rata.

Jenis Terumbu Karang yang Dirugikan

Terumbu karang dapat terlihat indah dan eksotis karena berbagai jenisnya berkumpul dan bersatu padu menjadi sebuah hamparan luas yang dapat memanjakan mata bagi para penikmatnya. Tetapi ketika jenis-jenis karang tersebut rusak karena penikmatnya sendiri, bukankah semakin miris?

Dalam jurnal ini disebutkan bahwa jenis karang Porites dari bentuk pertumbuhan coral massive paling sering mengalami luka (lession) dan jenis karang Acropora dari bentuk pertumbuhan acropora branching patah. Sehingga total dengan jenis karang lain dan jenis kerusakan lain adalah 78 kerusakan yang dialami oleh berbagai jenis terumbu karang di Pulau Air (salah satu destinasi bawah laut dari Pulau Panggang).

Ekosistem terumbu karang tidak akan semakin baik jika para pecintanya saja tidak ikut menjaganya dengan baik. Terumbu karang berpotensi rusak dari aktifitas destruktif wisatawan sebesar 21% (snorkeling: 5%, diving nonlicensed: 13%, diving licensed : 3%) terhadap luasan ekologis terumbu karang pertahun.

Setelah dibandingkan dengan data tutupan terumbu karang tahun 2010, tutupan terumbu karang pada tahun 2010 sebesar 44% dan pada 2016 sebesar 47%, tetapi tutupan kematian karang dari asalnya 16% menjadi 24% pada tahun 2016. Dengan mengabaikan faktor lain seperti kondisi perairan yang kurang baik, kompetisi dengan biota lain, dll, jika perilaku oknum-oknum wisatawan tidak segera dikoreksi maka bukan hal yang tidak mungkin terumbu karang akan rusak total karena efek langsung perilaku destruktif yang mungkin terjadi adalah mematahkan percabangan karang sehingga karang terancam stres kemudian mati.

Raise the Awareness!

Bagi kamu para ocean addicts yang sudah teredukasi, dimohon untuk menyebarluaskan wawasan bahwa Terumbu Karang adalah hewan yang rentan. Liburan sih liburan, tapi jangan ganggu mereka ya!

Pepatah menyebutkan, ketika bermain dibawah laut, Take Only Pictures and Leave Only Bubbles! Artinya, kita nggak boleh ambil apa-apa kecuali foto dan meninggalkan apa-apa kecuali gelembung udara dari mulut atau alat kita, not even scratch!

perilaku destruktif ketika snorkeling

Infografis: Divingnya Jangan Ganggu Terumbu Karang, Ya!

 

Referensi:

Dampak Snorkeling Dan Diving Terhadap Ekosistem Terumbu Karang oleh Muhidin, Fredinan Yulianda, dan Neviaty Putri Zamani dari Institut Pertanian Bogor yang dimuat pada Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 9 No. 1, Juni 2017.


Penulis:

Gita Alisa

Artikel ini ditulis dalam rangka Final Project Creative Information and Communication Internship Program 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *