Resep Gaya Hidup Ramah Lingkungan ala Nonet

#NoStrawMovement: Awal Gerakan Perubahan Penggunaan Plastik
February 18, 2019
Hari Peduli Sampah Nasional: Yuk, Lindungi Laut dari Sampah!
February 25, 2019

“Permasalahan lingkungan akibat sampah itu nyata. Mengganti gaya hidup yang lebih ramah lingkungan adalah upaya mengurangi beban permasalahannya.”

Begitu jawaban Sudiyah Istiqomah (33), ketika ditanya tentang motif awal dirinya tergerak untuk mengganti gaya hidupnya menjadi lebih ramah lingkungan. Nonet, begitu panggilan akrabnya, kini berkesibukan di RECOFTC Indonesia, salah satu lembaga non-profit seputar hutan dan masyarakat. Selain itu, Nonet juga aktif berkegiatan bersama Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor. Dirinya mengaitkan ‘Ramah Lingkungan’ dengan kebiasaan sehari-harinya yang juga biasa disebut gaya hidup. Gaya hidup yang demikian, ia anggap sebagai bentuk tanggung jawab atas sampahnya sendiri. Setidaknya dengan begitu, dirinya sedikit mengurangi beban terhadap permasalahan sampah yang makin hari semakin menumpuk.

Ia menyebutkan bahwa kebiasaan tersebut diawali sejak empat tahun yang lalu, ketika dirinya merasa semakin sering bertemu dengan sampah setiap ia bepergian kemanapun, sehingga ia beranggapan bahwa masalah lingkungan akibat sampah itu nyata.

“Sedih banget pas waktu itu di Bali, sore-sore lihat matahari nya romantis banget, tapi di pantainya banyak banget sampah”, ungkap Nonet ketika menceritakan salah satu pengalamannya melihat langsung rusaknya lingkungan akibat sampah.

Kak Nonet membawa kotak makanan untuk berbelanja di pasar

Berikut resep-resep yang diberikan Nonet terkait gaya hidupnya yang ‘ramah lingkungan’.

  1. Mengurangi kemasan plastik sekali pakai

Plastik hingga saat ini masih menjadi pilihan utama kebanyakan orang untuk mengemas atau melindungi barangnya. Akibatnya, tanpa sadar kehidupan kita begitu bergantung pada benda ini. Tidak heran jika jumlah plastik mendominasi pada setiap tumpukan sampah.

Nonet mengungkapkan dirinya sudah mengurangi kemasan plastik sekali pakai.

Gua biasanya bawa goodie bag kalo mau belanja. Kalo ke pasar bawa wadah makan atau jar buat nyimpen bumbu atau belanjaan lainnya”, kata Nonet.

 

  1. Berhenti menggunakan sedotan plastik

Tidak banyak yang menyadari jika sedotan plastik sekali pakai termasuk salah satu penyumbang terbesar sampah plastik yang selama ini mencemari lingkungan. Sadar akan itu, Nonet sudah tidak lagi membutuhkan sedotan plastik sekali pakai setiap kali ia minum.

Sedotan. Gua lebih pilih minum gapake sedotan si, ketimbang mengganti sedotan pake yang stainless atau sejenisnya, yang ga sekali pakai itu. Soalnya ribet kalo pake sedotan, mending langsung aja”, ungkapnya.

 

  1. Selalu membawa botol minum

Menurut Nonet, membawa botol minum (tumbler) saat bepergian merupakan kebiasaan yang terbilang sederhana dalam upaya mengurangi limbah pribadi. Namun ia mengeluhkan mengenai belum banyaknya ditemukan tempat untuk mengisi ulang botol minum di Indonesia. Hal itu menjadi kendala ketika botol minumnya habis.

Jadi buat ngakalinnya, Gua punya banyak botol minum, beda-beda besar nya. Botol minum yang mau dibawa jadi disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya kalo bepergian jauh, berarti bawa yang gede sekalian”, begitu tambahnya.

 

  1. Membawa bekal makanan

Kebiasaan selanjutnya yakni selalu membawa bekal makanan. Selain mengurangi produksi sampah pribadinya, Nonet juga menganggap membawa bekal makanan itu lebih praktis.

Ia menambahkan, “secara tidak sadar kebiasaan membeli makanan jadi yang dibawa pulang itu salah satu sebab banyaknya produksi sampah pribadi. Jadi kalo ga kepepet-kepepet banget, pas beli makananan atau jajan bawa wadah sendiri, atau makan di tempat aja, ngurang-ngurangin plastik dan kemasan sekali pakai”.

 

  1. Mulai mengolah sampah organik

Nonet menyampaikan bahwa 70% sampah yang menimbulkan bau tak sedap itu berasal dari sampah-sampah organik. Jadi ia mengimbau, mulailah olah sampah organikmu, paling sederhana dengan membuat lubang biopori di halaman rumah.

 

  1. Identifikasi pengeluaran sampah mu

“Catat produksi sampah pribadi kalian tiap minggu atau tiap bulannya. Supaya tau berapa banyak sampah yang dihasilkan, terus sampah apa yang paling banyak”, begitu ucapnya.

 

Bagaimana memulai itu semua?

“Memulai itu semua memang perlu upaya yang mungkin sulit, tapi sebenarnya mudah kok. Lakukan apa yang kita bisa”, tutur Ketua Umum Pecinta Alam IPB 2006-2007 ini.

Ia menegaskan, jika menemukan banyak cara untuk mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, pilih dan mulailah dari yang paling mudah dilakukan. Menurutnya, kebiasaan itu dilakukan secara bertahap dengan terus menambah tingkat kepeduliannya terhadap lingkungan. Kemudian, menurutnya penting juga untuk sering mencari tahu seperti apa permasalahan di lapangan. Hal tersebut supaya semakin mengenal dampak kerusakan lingkungan akibat sampah ini dan menyadari bahwa kita pun berkontribusi dalam kerusakan tersebut.

Dirinya menambahkan bahwa timbulnya kesadaran itu terkadang juga harus dipaksa oleh aturan. Seperti yang telah dilakukan oleh beberapa kota besar di Indonesia, seperti Balikpapan, Jambi, Denpasar, dan Bogor, mengeluarkan aturan daerah terkait penggunaan plastik. Hal tersebut secara langsung mendorong animo masyarakat dalam mengurangi produksi sampah plastik di daerahnya.

Selain itu, membiasakan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan juga dapat dilakukan dengan banyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki perhatian serupa. “Upaya seperti itu sangat berpengaruh secara emosional. Menambah dan merawat kepedulian terhadap lingkungan dengan saling mengingatkan atau menyemangati satu sama lain”, ungkapnya.

 

Sampah tanggung jawab siapa?

Kak Nonet ketika bersama Komunitas Peduli Ciliwung mengampanyekan untuk peduli terhadap sungai

Ada yang menyebutkan sampah adalah tanggung jawabmu. Namun ada juga yang menyebut sampahku tanggung jawab negara. Jadi bagaimana?”, tanya Nonet.

Berbicara tentang tren saat ini, publik sudah mulai banyak yang menyadari bahwa sampah merupakan suatu ancaman. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya orang, mulai dari individu hingga komunitas ataupun lembaga, baik pemerintah maupun non-pemerintah, telah fokus menangani persoalan sampah ini. Tentu itu semua belum cukup menyelesaikan persoalan.

Selanjutnya Nonet memberikan contoh permasalahan sampah yang terjadi di sungai. Menurutnya sungai adalah milik publik, jadi bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, namun tanggung jawab bersama. Dimulai dari kesadaran pribadi hingga membentuk kesadaran lingkungan.

Seperti yang telah dilakukan dirinya bersama teman-teman Komunitas Peduli Ciliwung (KPC), menambah kesadaran terhadap lingkungan dengan konsisten memulung sampah di sungai tiap minggunya. Kini Pemerintah Kota Bogor pun turut andil dalam gerakan penanganan sampah di sungai Ciliwung, yang salah satunya dimotori oleh rekan-rekan KPC.

Jika sudah tau permasalahannya, apa kontribusi lu? Ya kita lakukan apa yang kita bisa. Mulai dari merubah kebiasaan yang tidak baik, ikut menyuarakan kampanye-kampanye lingkungan, ataupun aksi langsung, seperti mulung misalnya”, tegasnya.

Dirinya menjelaskan bahwa berbuat baik itu menyenangkan. Berbuat baik menimbulkan dampak yang baik. Sehingga timbul kenikmatan tersendiri. Hal tersebut yang membuat dirinya hingga saat ini merasa ketagihan untuk menumbuhkan kesadarannya terhadap lingkungan.

 

Penulis: Akbar

Editor: Nissa

1 Comment

  1. Gak ada yang gak mungkin! Karena jaman dahulu aja bisa tanpa plastik, sekarang pasti bisa. Makasih banyak ceritanya Mba Nonet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *