Siapa yang Mengganggu Kehidupan? Sampah? Apa Kita?

Haruskah Sampah Berakhir di Laut?
February 4, 2019
Kita yang Nyampah, Mereka yang Tersiksa
February 8, 2019

Apa yang pertama kali terbesit dari pikiran teman-teman ketika mendengar kata laut? Luas dan biru mungkin? Atau bisa juga tempat yang sangat indah? Atau mungkin tempat yang tenang? Well, apapun jawaban dan argumennya, sepertinya kita harus sepakat bahwa laut merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus kita syukuri.

Berangkat dari pertanyaan di awal tadi tentang kata laut, jawabannya tak lepas dari manfaat laut itu sendiri bagi bumi serta seluruh makhluk hidup di dalamnya. Laut merupakan sumber penting bagi kehidupan. Luasnya saja mencapai tiga perempat dari planet kita, sehingga sebesar 97 persen air di planet bumi berada di lautan. Laut juga menghasilkan lebih dari  setengah oksigen di atmosfer dan menyerap karbon lebih banyak dibandingkan daratan. Kemudian, lebih dari 60 persen populasi dunia tinggal di dekat pantai. Selain menyediakan mata pencaharian, laut juga menyediakan keindahan, sumber pangan, obat-obatan, teknologi dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Dibalik banyaknya manfaat tersebut, laut juga tak lepas dari ancamannya terhadap kelestarian lingkungan hidup ekosistem yang tidak bisa dianggap remeh. Sampah menjadi permasalahan serius yang tak kunjung selesai. Sampah berkontribusi besar dalam tercemarnya laut nasional yang berdampak juga pada laut global.

Mari berpikir dengan logika sederhana. Apabila kita sudah menyadari akan pentingnya laut bagi kehidupan kita, serta sampah dianggap suatu ancaman serius bagi kelestarian lingkungan, bukankah sampah telah mengganggu kehidupan kita dengan serius?

Kondisi sampah di laut Indonesia

Sampah hingga saat ini masih menjadi persoalan yang serius bagi Indonesia dan negara-negara lain di dunia. Selain mengganggu secara estetika dan seringkali menimbulkan bau yang tidak sedap, permasalahan yang lebih serius yakni pencemaran lingkungan yang akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain didalamnya.

Sampah di Indonesia tak hanya dijumpai di daratan saja, namun sudah menyebar luas hingga wilayah lautan.  Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dalam mongabay.co.id mencatat, sebanyak 1,29 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.000 plastik mengapung di setiap kilometer persegi setiap tahunnya, dengan uraian pada tabel di bawah ini. Fakta tersebut menasbihkan Indonesia menjadi negara nomor dua di dunia dengan produksi sampah plastik terbanyak di lautan (gambar grafik di bawah).

Sampah dapat berasal bermacam-macam aktivitas baik dari aktivitas manusia maupun aktivitas alam sendiri, namun produksi sampah didominasi oleh kegiatan manusia. Pola hidup yang semakin konsumtif menyebabkan meningkatnya produksi sampah. Sisi lain yang dapat dilihat dari aktivitas tersebut, manusia menghasilkan buangan (barang) yang tidak diinginkan atau tidak berguna (sampah).

Semakin hari sampah bertambah banyak, sedangkan ketersediaan ruang hidup manusia relatif tetap. Implikasi sederhana dari sampah yang semakin menumpuk adalah kebingungan manusia mencari tempat pembuangannya. Bagi manusia yang minim kesadaran akan sampah, dengan gampangnya menjadikan lahan kosong didekatnya untuk dijadikan tempat sampah. Sebab dari perilaku seperti itu juga yang menyulap sungai di Indonesia berubah fungsi menjadi tempat sampah.

Selain dari perilaku tiap-tiap individu manusia, sampah juga banyak bersumber dari aktivitas komersil, seperti pabrik besar hingga rumahan, konstruksi atau pembongkaran bangunan, perkantoran, pasar, pertokoan, supermarket, rumah makan, perhotelan, dan lain sebagainya.

Berawal dari sumber produksi sampah yang diceritakan di atas, muncul lah pemberitaan media tentang banjir, pencemaran, penyakit, hingga berita-berita yang cukup mencengangkan seperti ikan dan hewan air yang biasa kita konsumsi sudah tercemar, sampah telah menggantikan makanan ubur-ubur, lumba-lumba dan paus tersedak sampah, dan pemberitaan lainnya.

(Sumber sampah dan dampaknya bagi kehidupan makhluk hidup  diilustrasikan pada infografis dibawah ini).

 

Siapa yang mengganggu kehidupan kita?

Diperkirakan total jumlah sampah Indonesia di tahun 2019 akan mencapai 68 juta ton (data kompasiana 2017). Hal tersebut tentu jumlahnya tidak sepadan dengan tempat penampungannya. Contoh saja di Kota Jakarta, sampah yang dihasilkan per harinya mencapai 6000-6500 ton, sedangkan tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang hanya memiliki luas 108 Ha. Kemana perginya sampah-sampah yang tidak tertampung? Sungai dan laut lah yang seringkali dijadikan alternatif tempat pembuangan sampah.

Selanjutnya, persoalan sampah berujung di laut. Sekitar 80 persen dari total sampah dari daratan masuk ke daerah lautan, ditambah lagi sampah-sampah yang memang dibuang di lautan. Hal tersebut tidak hanya berdampak buruk terhadap lingkungan laut, tapi juga merugikan dari sisi ekonomi karena pendapatan negara dari sektor kelautan juga menurun. Jika sampah sudah sampai di lautan, maka bukan lagi permasalahan regional (Indonesia), namun sudah menjadi permasalahan global.

Narasi di atas menunjukan bahwa sampah merupakan persoalan yang menggangu keberlangsungan hidup seluruh makhluk di Bumi. Jika benar, lantas siapa yang mengganggu kehidupan kita? Si sampah? Atau si penghasil sampah? Manusia? Kita? –Berarti apakah kita yang mengganggu kehidupan kita sendiri?

Sampai sejauh ini, telah banyak yang terlibat dalam aksi penanggulangan sampah, baik pemerintah, swasta, lembaga/komunitas, serta elemen masyarakat lainnya, namun masih diperlukan upaya yang lebih dalam mengatasinya. Peran serta masyarakat juga sangat penting dalam penyadaran prilaku yang lebih ramah lingkungan. Sudah seharusnya persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama. Dengan meningkatnya produksi sampah setiap harinya, sudah seharusnya juga kita meningkatkan level atensi pada tagline ‘Buanglah Sampah pada Tempatnya’ menjadi ‘Buanglah Sampah (orang lain juga) pada Tempatnya!’

 

Penulis: Akbar

Editor: Nissa

 

Referensi.

https://www.mongabay.co.id/2018/07/26/ancaman-sampah-plastik-untuk-ekosistem-laut-harus-segera-dihentikan-bagaimana-caranya/

https://www.kompasiana.com/doansimanjuntak/594cab849178b2621a3b5892/sampah-masalah-yang-tiada-habisnya

Purba, N.P. 2017. Sampah dan Solusi untuk Kesehatan Laut. Indonesia Youth Marine Debris Summit, Jakarta, 24-29 Oktober 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *